Selasa, 17 November 2015

Pemerintah alokasikan Rp 2,40 triliun untuk PAUD nonformal dan informal

Jakarta - Pemerintah mengalokasikan anggaran sebanyak Rp 2,40 triliun untuk pembinaan program Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) pada tahun 2013. Anggaran tersebut akan digunakan untuk perluasan layanan PAUD, kursus dan pelatihan, pendidikan masyarakat, dan peningkatan kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (guru) PAUDNI.



Direktur Jenderal PAUDNI Kemendikbud Lydia Freyani Hawadi menguraikan, tahun ini Kemdikbud akan mendorong penyelenggaraan PAUD Holistik-Integratif yang mampu mengoptimalkan kecerdasan anak sesuai tahap tumbuh kembang anak, dan memberikan kesiapan mengikuti pendidikan lebih lanjut dengan jangkauan sasaran yang makin luas, bermutu, merata dan berkeadilan. Salah satu kebijakannya adalah dengan mengoptimalkan infrastruktur yang telah ada di masyarakat.

"Kami sudah tidak lagi memberikan bantuan sarana prasarana, seperti Unit Gedung Baru atau Ruang Kelas Baru. Tetapi kami merangkul para mitra agar memberdayakan rumah ibadah, seperti masjid, gereja atau pura untuk lembaga PAUD,” katanya di Kemendikbud, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tahun ini, alokasi anggaran untuk Direktorat Pembinaan PAUD sebanyak Rp 676,2 miliar. Sebanyak 324 miliar dari anggaran tersebut dialokasikan untuk Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) PAUD bagi 45.000 lembaga. Selain itu, Direktorat Jenderal PAUDNI mengalokasikan bantuan untuk mendirikan 1.491 lembaga PAUD baru pada tahun 2013.

Namun, anggaran tersebut belum mampu menuntaskan program Satu Desa Satu PAUD. Hingga akhir 2012, masih terdapat 25.834 desa yang belum memiliki PAUD. Jika diasumsikan, rata-rata setiap tahun dialokasikan bantuan sebanyak 1.491 lembaga, maka diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk seluruh desa dapat terlayani. “Oleh sebab itu tidak bisa bergantung dari APBN, butuh dukungan pemerintah daerah, swasta, BUMN, dan seluruh masyarakat,” ucap Dirjen.

Sampai akhir Desember 2012 lalu, persentase anak 0–6 tahun yang memperoleh layanan PAUD mencapai 37,83% dari target sebesar 37,81 %, atau tercapai 100,05 persen. Lembaga PAUD pun terus bertambah setiap tahun.

Berdasarkan Aplikasi Pendataan Direktorat Jenderal PAUDNI, pada tahun 2011 terdapat 140.348 lembaga PAUD baru. Kemudian pada tahun 2012 bertambah menjadi 162.746 lembaga ( NINIK MS SUMBER: ANTARA)

Ini Kabar Gembira bagi Lembaga PAUD

JAKARTA--Pemerintah akan meningkatkan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Anak Usia Dini (PAUD) pada 2016. Langkah ini diambil untuk menjamin mutu dan sebagai bagian dari Gerakan Nasional PAUD Berkualitas.
 

Tahun ini, Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat telah menyediakan Bantuan Operasional untuk 74.848 lembaga. Tahun depan, menurut Direktur Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Ella Yulaelawati, akan ditingkatkan dua kali lipat menjadi sebanyak 158.700 lembaga.

"Bantuan ini akan diberikan bagi lembaga PAUD yang telah berdiri minimal setahun, dan memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Bantuan diberikan sebesar Rp 5 juta hingga Rp 7,2 juta per tahun bergantung dari jumlah peserta didik di lembaga PAUD tersebut," jelas Ella, Rabu (2/9).

Dijelaskan, bantuan Operasional PAUD dapat digunakan untuk beragam keperluan yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan belajar. Antara lain untuk subsidi bantuan keringanan biaya pendaftaran peserta didik kurang mampu, biaya pembelian buku bacaan, alat permainan edukatif, dan keperluan lain yang terkait dengan pembelajaran.

"Salah satu kendala yang dihadapi masyarakat dalam memasukkan anaknya ke lembaga PAUD adalah keterbatasan ekonomi. Bantuan Operasional PAUD kami harap dapat menjadi solusi untuk mengatasi kendala tersebut," ujar Ella.

Pemberian Bantuan Operasional juga menjadi salah satu strategi dalam membangun lembaga PAUD yang berkualitas. Berdasarkan data Direktorat Pembinaan PAUD, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada akhir 2014 jumlah lembaga PAUD di Indonesia telah mencapai lebih dari 188 ribu.
"Namun sebagian belum memenuhi standar PAUD dan masih perlu dibenahi kualitasnya," ucap Ella. (ninik ms sumber "

mesy/jpnn)

Senin, 22 Juni 2015

Strategi Pembelajaran Paud

Pendidikan anak usia dini atau paud saat ini sedang marak di tanah air. Pendidikan anak usia dini ini dinilai penting untuk mendukung perkembangan yang dimiliki oleh seorang individu. Alasan lainnya karena pendidikan usia dini ini sangat efektif untuk membantu mengenalkan anak tentang pembelajaran sebelum mereka nanti bersekolah di sekolah dasar. Menyimak tentang pendidikan paud ini maka ada banyak hal yang harus diperhatikan. Khususnya, ketika kita melihat usia dari para peserta didiknya. Ya, dengan rata-rata usia anak yang 4 hingga 6 tahun tentunya perlu sebuah strategi khusus yang harus dibedakan dari jenjang pendidikan lainnya. Seperti apakah strategi tersebut? Simak ulasan berikut dengan seksama untuk menemukan jawabannya.

1. Dengan bercerita. Anak usia dini sangat menyukai jika diajak untuk bercerita. Jadi seorang tenang pendidik dapat menerapkan strategi bercerita pada peserta didik untuk menyampaikan materi pembelajaran. Selain itu tenaga pendidik juga dapat meminta peserta didiknya untuk bercerita dalam sekali waktu untuk melatih respon dari peserta didik terhadap apa yang ada di sekelilingnya.
2. Bernyanyi. Selain cerita, anak-anak di usia dini tersebut juga berada dalam fase meniru sehingga untuk mengembangkan respon yang mereka miliki. Seorang tenaga pendidik dapat menyampaikan materi pelajaran dengan menyanyi bersama peserta didiknya. Dengan cara ini pembelajaran akan berlangsung menyenangkan dan peserta didik akan semangat untuk belajar.
3. Strategi permainan. Banyak sekali permainan anak yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang baik untuk anak usia dini. Seorang tenaga pendidik dalam hal ini harus selektif dalam memilihkan jenis permainan anak yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
4. Strategi Puzzle. Menyusun sebuah gambar tertentu akan membuat para peserta didik mengalami peningkatan pola pikir. Strategi pembelajaran ini sebenarnya dapat kita sebut sebagai salah satu bagian dari strategi problem solving yang menuntut pada peserta didik untuk dapat memecahkan sebuah permasalahan tertentu. Strategi ini akan dapat menarik minat peserta didik jika puzzle yang diberikan menarik hati mereka.
sumber: pusyandukotabogor

Pendidikan Anak Usia Dini


Recognizing And Comprehending A Period Of Respecting Age Child Early.
Tak kenal maka tak sayang, itu lah kalimat yang mungkin mendorong perlunya kita mengenal dan memahami anak usia dini agar bisa memberian layanan yang optimal sesuai dengan karakteristik dan perkembangan anak usia dini.Dibawah ini akan kita bahas hal-hal yang berkaitan dengan mengenal dan memahami anak usia dini, khususnya yang berkaitan dengan apa dan bagaimana anak usia dini itu, siapa anak usia dini, mengapa anak usia dini, cara dan kebiasaan belajar anak usia dini, the golden age dan mafaat memahami anak usia dini.
1. Apa dan Bagaimana anak usia dini itu?
Anak usia Dini adalah individu yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. Anak usia dini memiliki rentang usia yang sangat berharga disbanding usia-usia selanjutnya karena perkembangan kecerdasannya sangat luar biasa. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik , dan berada pada masa proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan dan penyempurnaan, baik pada aspek jasmani Maupun rohaninya yang berlangsung seumur hidup, bertahap dan berkesinambungan.
Nah, disini perkembangan sendiri berarti suatu proses dalam kehidupan manusia yang berlangsung secara terus menerus sejak masa konsepsi sampai akhir hayat.
Istilah pertumbuhan dan perkembangan sering kali digunakan secara bergantian, seolah-olah keduanya memiliki pengertian dan makna yang sama, karena menunjukkan adanya suatu kemajuan.
Seorang tokoh yang bernama Hurlock (1995) ini mengemukakan bahwa pertumbuhan itu dapat pula mencakup aspek psikis kalau memunculkan sesuatu fungsi baru seperti munculnya kemampuan berpikir, simbolik, kemampuan berpikir abstrak, serta munculnya nafsu birai terhadap lawan jenis.
2. Siapakah anak usia dini ?
Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya.
Secara umum anak usia dini dapat dikelompokkan dalam usia :
a. Usia 0-1 tahun
Usia ini merupakan masa bayi, tetapi perkembangan fisik mengalami kecepatan yang sangat luar biasa, lebiuh cepat dari usia selanjutnya.
b. Usia 2-3 tahun
c. Usia 4-6 tahun
3. Mengapa anak usia dini?
Karakteristik setiap aspek perkembangan anak usia dini tersebut dapat dianalisis sebagai berikut.
a. Perkembangan fisik dan motorik
Perkembangan fisik dan motorik anak itu cenderung mengikuti pola yang relatif sama sehingga dapat diramalkan, normal atau memiliki hambatan.
b. Perkembangan kognitif
Kognitif sering di sinonimkan dengan intelektual karena prosesnya dapat berhubungan dengan berbagai konsep yang telah di miliki anakdan berkenaan dengan kemampuan berpikir nya dalam memecahkan suatu masalah.
Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebagian besar aktivitas belajar selalu berhubungan dengan mengingat dan berfikir.
Disini seorang tokoh yang bernama Piaget meyakini bahwa anak harus di pandang sepuerti seourang ilmuan yang sedang mencari jawaban dalam upaya melakukan eksperimen terhahdap dunia untuk melihat apa yang terjadi.
c. Perkembangan bahasa
Bahasa dapat diartikan sebagai alat komunikasi. Dalam pengertian ini dapat tercakup semua cara untuk berkomunikasi sehingga pikirsn dan persaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan ,isyarat atau gerak dengan menggunakan kata2, kalimat, bunyi lambang dan gambar
d. Perkembangan berbicara
Bicara merupakan keterampilan mental motorik sebagai salah satu bagian dari keterampilan bahasa, yang tidak hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot mekanisme suara yang berbeda, tetapi juga mempunyai aspek mental yakni kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang di hasilkan.
e. Perkembangan emosi
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak dalam diri seseorang yang disadari dan diungkapkan melaui wajah atau tindakan yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam).
f. Perkembangan Sosial
g. Perkembangan moral
h. Perkembangan spiritual
4. Landsan yuridis
1. Setiap anak berhak untuk kelangsungan hidup, tumbuh dabn berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi (UUD 1945 pasal 28 ayat 2)
2. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakatnya ( UU NO 23 tahun 2002 pasal 9 ayat 1 tentang perlindungan anak ).
3. UUNo 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.
oleh Vera Kumalasari//kompasiana




Rabu, 15 April 2015

Jangan emosi dalam mendidik anak




Bagi para pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini (paud) maupun di taman kanak-kanak dan juga bagi orang tua hari ini ada tambahan satu tips lagi dalam mendidik dan mengasuh anak. Tips yang satu ini berkaitan dengan anda sebagai seorang pendidik. Dalam artikel kali ini kita akan mencoba membahas sikap emosional yang seringkali dialami oleh pendidik dan orang tua dalam mendidik anak. Sebagai sosok yang menjadi panutan bagi anak anda dituntut untuk bisa mendidik anak-anak dengan baik dan benar serta positif bagi perkembangan anak.


Mendidik anak perlu kesabaran dan kebijakan yang tinggi. bagaimanapun, kondisi emosional pendidik / orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak. jika anak sering berada di lingkungan emosional yang tidak stabil maka secara otomatis anak akan memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah. tentunya ini sangat merugikan karena keberhasilan seseorang kelak lebih banyak ditentukan karakter yang didalamnya kondisi emosional seseorang.

membuat anak memiliki karakter dan kecerdasan emosional tentu memerlukan proses panjang dimana setiap orang tua harus berusaha mengendalikan emosi pada saat mendidik anak maupun di kehidupan sehari hari yang notabene merupakan lingkungan sesungguhnya dari perkembangan anak anda.

beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi ketika mengasuh anak antara lain :

1. pujilah hal menyenangkan yang dilakukan anak maka kita juga akan ikut senang

2. sikapi dengan bijak setiap kesalahan yang dilakukan anak dan segera tunjukkan langkah perbaikannya dengan sabar dan konsisten

3. tarik nafas secara perlahan sedalam mungkin dan lepaskan tanpa sepengetahuan anak jika emosi anda telah memuncak dengan ulah anak setelah itu tersenyumlah terhadap anak anda.

mudah mudahan beberapa tips mengontrol emosi dalam mendidik anak diatas dapat dijadikan jalan bagi anda untuk meningkatkan kecerdasan anak, membentuk karakter anak yang unggul agar kelak menjadi pribadi yang unggul.

Tag : Jangan emosi dalam mendidik anak, kendalikan emosi dalam mendidik anak, sabar dalam mendidik anak, tips sabar mendidik anak, mendidik anak yang baik, mendidik anak yang benar, bersikap sabar dalam mendidik anak, bersikap positif dalam mendidik anak, dampak emosional dalam mendidik anak, buah sabar mendidik anak, hikmah sabar mendidik anak, mendidik anak secara islam, bersikap islami dalam mendidik anak, hinadari emosi dalam mendidik anak, jauhi emosi dalam mendidik anak 
oleh : ninik muyasripah -sumber OKEZONE

Tips mendidik anak usia dini yang nakal





Nah, pada artikel kali ini kita akan mencoba membahas tentang anak nakal. Selama ini mungkin orang tua maupun pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun taman kanak-kanak atau bahkan di sekolah dasar sering menemui anak-anak yang berlabel anak nakal. Dan terkadang juga sempat dibingungkan dengan kenakalan anak tersebut. Mungkin beberapa tips dibawah ini mampu memudahkan anda dalam menghadapi anak-anak nakal.



Jika membahas soal anak memang gampang-gamapng susah, terutama bagi anak yang nakal repotnya minta ampun. Anak yang nakal dan susah diatur mungkin ada kaitannya dengan latar belakang keluarga itu sendiri. Namun para orang tua yang memiliki anak yang nakal tidak usah bingung bagaimana cara mendidik dan mengatasi anak nakal, disini saya akan memberikan tips cara mendidik dan mengatasi anak nakal mudah-mudahan tips yang saya berikan ini bisa menjadi solusi untuk anda dalam mendidik dan mengatasi anak anda.

Berikut ada beberapa cara mendidik dan mengatasi masalah tersebut:
  • Didekati si anak ajak komunikasi sebagai teman
  • Diberi kesempatan untuk bercerita tentang hal apa saja yang dia temui
  • Diajarai sifat dan sikap tanggung jawab

Untuk membiasakan anak bertanggung jawab haruslah dimulai sejak dini, tanpa dibiasakan sejak kecil tidak mungkin anak mempunyai rasa tanggung jawab.
  • Biasakan anak mengambil dan mengembalikan maiananya sendiri sebelum dan sesudah bermain
  • Biaskan anak untuk melakukan tugas-tugas ringan sejak kecil
  • Bisakan anak untuk menjaga kebersihan
  • Bila nakal tegurlah dan diberi pengarahan
  • Bila melakukan kesalahan dengan orang lain biasakan anak untuk minta maaf agar dia mengeri dan menyadari kesalahannya
  • Biasakan anak untuk mengucapkan terimakasih bila ditolong atau diberi sesuatu oleh orang lain.

Di atas tadi merupakan cara mendidik anak, mendidik dan mengatasi anak adalah tanggung jawab kita para orang tua untuk itu jika anda merasa kesulitan mengatasi anak yang nakal segeralah cari solusi agar anda tidak salah dalam mendidik. Pada artikel selanjutnya penulis akan membagikan tips-tips yang lain yang sekiranya bermanfaat dalam pendidikan anak.

Tag : Tips mendidik anak usia dini yang nakal, perkembangan anak usia dini, pendidikan anak usia dini, paud, taman kanak-kanak, psikologi anak usia dini, karakter anak usia dini, sekolah
ninim muyasripah : berbagaisumber

Jumat, 10 April 2015

Sasaran pendidikan untuk semua anak tidak tercapai

PAUD MUTIARA CERIA -Tekad agar semua anak-anak di dunia mendapat pendidikan dasar pada tahun 2015, yang dicanangkan para pemimpin dunia sebagai sasaran milenium- resmi tidak tercapai.
Badan PBB untuk urusan pendidikan dan budaya, UNESCO, mengatakan sekitar 58 juta anak-anak masih belum mendapat akses untuk pendidikan dasar dan 1000 juta tidak menyelesaikan pendidikan dasar.
Bagaimanapun Dirjen UNESCO, Irina Bokova, mengatakan bahwa tercapai 'kemajuan yang besar' dalam pendididikan global.
Kekurangan dana sebesar US$22 miliar untuk mencapai sasaran pendidikan dasar untuk semua anak.
Enam tekad global ditandatangani oleh 164 negara pada April 2000 dengan tujuan untuk meningkatkan pendidikan secara sistematis selama 15 tahun mendatang.
Tidak satupun dari tekad tersebut yang tercapai pada batas waktu tahun 2015, namun dibandingkan dengan kecenderungan tahun 1990-an, situasi saat ini lebih baik.
"Jutaan anak-anak lebih banyak berada di sekolah dibandingkan jika kecenderungan pada tahun 1990-an yang bertahan," tegas Bokova.
Menurut UNESCO, kekurangan dana mencapai sebesar US$22 miliar jika sasaran untuk menempatkan semua anak-anak ke sekolah dasar ingin dicapai.
Sebagian besar dari anak-anak yang tidak menikmati akses pendidikan dasar adalah anak perempuan dari keluarga miskin di negara-negara Afrika yang berada di bawah Sahara.
Selain kurangnya dana, hambatan untuk menciptakan sekolah-sekolah dasar antara lain disebabkan konflik, kemiskinan, diskriminasi, pemerintahan yang buruk dan meningkatnya junmlah penduduk.

Tekad pendidikan global

Tak satupun dari enam tekad pemimpin dunia tercapai sepenuhnya.
  1. Memperluas perawatan dan pendidikan dini: Dicapai oleh sekitar 47% negara dengan lebih dari dua pertiga anak menikmati pendidikan dini dibandung tahun 1999.
  2. Pendidikan dasar global: Dicapai 52% negara.
  3. Akses yang sama untuk belajar: Pendaftaran yang seimbang di sekolah menengah pertama di 46% negara. Namun di negara berpendapatan rendah, satu dari tiga kaum muda tidak bisa menyelesaikan pendidikan menengah pertama.
  4. Melek huruf dewasa: Buta huruf berkurang 50%. Hanya satu dari empat negara yang mencapai sasaran ini. Di kawasan Afika di bawah Sahara, setengah perempuan tetap buta huruf.
  5. Kesetaraan gender: Di 69% negara, terdapat kesetaraan gender untuk sekolah dasar namun untuk sekolah menengah hanya di 48%.
  6. Peningkatan kualitas pendidikan: Rasio guru-murid sudah meningkat di tiga negara lebih dari empat negara. Namun untuk mencapai sasaran di pendidikan dasar, diperlukan tambahan empat juta guru.------NINIK MUYASRIFAH sumber : bbc